Skip to main content

Perempuan dan Rahasia (2006)




Burung tak sempat bertanya
Apakah dirinya merdu
Apa itu yang bernyanyi menembus awan
Dan mengantar hujan
Ia hanya terbang, merajut cinta dengan daun dan musim
Hingga semua telinga terjaga oleh kebenaran suaranya

Kupu-kupu tak dapat bertanya
Apakah dirinya indah
Apa itu yang membentang megah
Menggoda hutan untuk menawan cahaya bintang
Ia hanya hinggap, merajut cinta dengan embun dan bunga
Hingga semua mata terpesona akan kecantikan sayapnya

Bunga tak sanggup bertanya
Apakah dirinya wangi
Apa itu yang meruap, memenuhi udara dan melahirkan kehidupan
Ia hanya tumbuh, merajut cinta dengan liur dan madu
Hingga alam raya terselimuti harum dan warna
Yang tak pernah diduganya

Seorang laki-laki tak kuasa bertanya
Mengapa perempuan ada
Siapa itu yang berdiam dalam keanggunan
Tanpa perlu mengucap apa-apa
Ialah puisi yang merajut cinta dengan bumi dan rahasia
Hingga semua jiwa bergetar saat pulang ke pelukannya.


Dee - Madre 2011

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Bekerja dengan hati (oleh: Arman Dhani Bustomi)

* Sebuah tulisan dari seorang sahabat senasib dan seperbingungan, semoga menginspirasi dan memotivasi kita untuk terus berproses *


Saya, teman saya dan mungkin juga anda selalu dipusingkan dengan pertanyaan klise macam ini. Kapan lulus (bagi yang kuliah)? Berkembang menjadi, kapan Kerja? Makin menyebalkan menjadi, Kapan Nikah? Dan mungkin yang sedikit menghibur, Kapan punya anak? Saya sendiri memang tidak pernah memusingkan hal-hal tadi, atau lebih tepatnya menolak memikirkan, sehingga tidak jadi pusing memikirkan hal-hal tadi. Bukan karena saya pengecut untuk lari dari tanggung jawab, tapi lebih kepada bagaimana saya memandang permasalahan tadi sebagai sebuah alur hidup. Dihadapi dengan santai, pusing dan keras akan memiliki hasil yang berbeda-beda tergantung bagaimana anda berusahanya.

Beberapa hari lalu saya pergi ke gedung rektorat universitas saya. Dilorong jalan menuju bagian kemahasiswaan saya bertemu dengan tiga gadis yang secara fisik cantik, semampai, semohai atau dalam arti…

Filosofi Sepeda Motor (dari spion saya)

Sepeda motor memberiku banyak pelajaran berharga. Bahkan tanpa ku sadari hidup ini seperti naik sepeda motor.

Pertama kali aku melihat sepeda motor, rasa takut yang awalnya ku rasa. Lalu aku melihat orang-itu bisa naik sepeda motor dengan mudahnya, akupun minta kakakku untuk mengajarinya padaku. Pertama kalinya memegang sepeda motor, yang aku rasakan adalah: sepeda motor itu berat banget, aku gk mungkin bisa menaikinya tanpa jatuh. Lalu kakakku selalu menemaniku sampai aku bisa.

Sepeda motor pertamaku adalah sepeda bebek 4 tak tua milik orang tuaku. Dan aku hanya bisa menaikinya sediri ke sekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh. Beberapa bulan kemudian, aku mulai berani untuk pergi jauh, ke jalan yang agak besar, di mana banyak sekali pengendara motor yang suka ngebut, suka belok sembarangan, berhenti mendadak, serta banyak sekali mobil atau bis yang sering berhenti tanpa tanda.

Aku sempat mengalami dua kali jatuh dari motor, karena orang yang aku tabrak adalah orang yang belok tiba-tib…

Tembang Tanpa Gamelan (sebuah geguritan Jawa)

~ Dalu san saya asrep Nalikaning penggalih sepen sanget Mbok bilih katon sawijining pasuryan Swanten ndangu ing sajroning talingan. ~ Panjenengan punapa kesupen, Dandang Gula ingkang kula nembang, Sesarengan ngandhapipun jawah, Nalikaning mendhung kebak tantun. ~ Raka, sampun semana ugi, Ngendikanipun rumiyin sami Menopo sak menika dados benten, Domadon damel waspa lepen. ~ Kula pun kepingin cecaketan, Punagi Raka kang mekanthar-kanthar, Pajar andining penggalih, Kang kantun dumadon sepalih. ~ Ingkang pundhi papan Raka, Tanpa pawarta Raka lelana, Kados ringgit tanpa dalang, Kados gamelan tanpa tembang. ~ Raka, pinangga peparing wados, Wantun cedhak kadasta rumaos, Dangu kula njemparing naros, Dangu kula njemparing pitados. ~ Duh Raka, kangen menika sanajan mindhak, Nyameni surya ing madya siyang, Monggo caket tindhak kundur, Pundhut nyupena kita pendhem dhuwur. ~ (Banda Aceh, Sewelas Mei Rongewu Sewelas)